Minimnya penelitian dan riset di Indonesia

Di Indonesia masalah peneitian sangat kurang berkembang, hal ini terbukti dengan minimnya jurnal Internasional dan riset-riset baru dari Indonesia. Padahal jika dilihat dari sisi pemenang lomba olympiade Fisika, Indonesia adalah salah satu negara yang ditakuti oleh negara-negara tetangga bahkan negara Eropa. Asian Physics Olympiad (APhO) yang merupakan salah satu kejuaraan Fisika tingkat Internasional di wilayah Asia. Sampai tahun 2011 kejuaraan ini sudah dilaksanakan sebanyak 12 kali  dengan peserta yang datang dari berbagai negara-negara Asia.  APhO merupakan kompetisi negara-negara Asia yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Yohanes Surya pada tahun 2000. Indonesia adalah salah satu langganan negara yang jarang sekali absen dalam olympiade ini. Bahkan tidak jarang siswa-siswi dari Indonesia yang mengikuti olympiade ini dapat meraih medali emas. Terbukti dengan Indonesia sering meraih medali emas sejak keikutsertaannya pada tahun2005, dan pada tahun 2011 Indonesia meraih 1 medali emas.

Namun sangat ironi jika hal ini dikaitkan dengan prestasi pendidikan dan penelitian Indonesia di tingkat Internasional. Logikanya adalah jika bangsa Indonesia sering meraih medali emas maka prestasi dan penelitian di Indonesia akan berkembang, tapi pada kenyataannya adalah keterpurukan prestasi pendidikan dan penelitian para pelajar Indonesia. Sangat jarang penelitian yang dikembangkan di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan kurangnya teknologi-teknologi asli rekayasa anak bangsa.

Salah satu penyebabnya adalah olympiade itu sendiri. Dalam pengerjaan olympiade, para siswa dituntut untuk menyelesaikan soal yang ada, kemampuan yang diukur disini adalah kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif adalah nol besar. Kerangka berfikir ilmiah kurang dilatih dalam olympiade ini. Siswa hanya dituntut bisa mengerjakan soal namun sikap ilmiah tidak terbentuk, padahal yang baik adalah siswa belajar dari masalah yang ada dilingkungan dan berfikir secara ilmiah untuk menyelesaikan maslah tersebut dn mencari solusinya.

Sangat sulit mengadakan penelitian di Indonesia, karena pembiayaan dana yang minim dan kurangnya konsern pemerintah dibidang penelitian. Jikalaupun ada, peneliti muda kita sudah keburu tergiur dengan milyaran dollar yang datang dari negera lain untuk membeli hasil penelitian sains mereka. Penelitian tersebut kemudian dikembangkan lagi di negara yang membelinya. Tidak hanya hasil penelitian, bahkan ketika Indonesia meraih juara pada perlombaan robotika di Singapura bulan Maret 2011, robot dan pelajar yang mendesain robot itu sudah diboyong ke Singapura untuk dipekerjakan di sana. Secara otomatis, Singapuralah yang dapat menikmati hasil pengembangan dari robotika tersebut.

Kurangnya ambisi untuk menguasai sains dan teknologi dinegara-negara berkembang. Hal ini mungkin disebabkan oleh latar belakang budaya serta kurangnya wawasan sains dari para pemimpinnya. Sebagian ilmuwan kita telah berpikir pragmatis dan instan. Ditambah lagi dengan gaya berpikir peninggalan Orde Baru yang juga sudah merasuk ke lingkungan ilmiah, sehingga penelitian hanya sekadar dibuat sebagai formalitas untuk kenaikan pangkat, memperoleh tambahan pemasukan dari dana penelitian, dan lain-lain. Minim sekali ambisi ilmuwan kita untuk menekuni suatu bidang penelitian secara serius hingga ke jenjang internasional.

Faktor lain yang juga kurang mendukung adalah minimnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini. Tidak pernah terdengar gagasan cemerlang dari para pemimpin bahwa investasi di bidang ilmu dasar merupakan tabungan masa depan yang sangat berharga. Para pemimpin juga berpikir instan, untuk apa membiayai penelitian yang mengawang-awang dan tidak membumi namun membutuhkan biaya mahal. Ada pula anggapan bahwa penelitian ilmu dasar tidak mendukung pembangunan nasional karena saat ini tidak dibutuhkan rakyat dan penelitian ilmu dasar seharusnya digali dari tradisi dan kejayaan bangsa di masa lalu. Kesemuanya menunjukkan kurangnya wawasan sains dari para pemimpin republik ini.

Saat ini masalah dana adalah momok yang menkutkan bagi para peneliti. Tidak sedikit dana yang hariu dikeluarkan untuk penelitian, mulai dari pengadaan alat sampai pada follow up dari hasil penelitian yang telah jadi. Sebaiknya pemerintah harus lebih konsern pada masalah penelitian, karena hasil yang ada, nantinya juga akan untuk menyejahterakan rakyat. Perbaikan pada managemen riset dan “memaksa” beberapa Universitas menjadi ladang yang potensial untuk menjadi University Research. Adanya program-program disetiap kampus yang mendorong mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Penerapan sikap ilmiah harus dimulai sejak jenjang SD. Siswa tidak lagi mengerjakan soal hitungan namun mengerjakan soal yang bersifat Problem Based Learning yang dapat melatih sikap ilmiah siswa.

Publikasi langsung ke jurnal Internasional hasil riset yang didapat dan langsung menerapkan hasil inovasi baru penelitian di dunia industry, sehingga tidak lagi dimanfaatkan oleh negara lain.

Nisa, Esti, Pipih, dan Ani ( Pendidikan Fisika 2007 )

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s