PENJELASAN SILA KE-2 KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

Sumber: Zurnelly, 2010. Filsafat Pancasila, Jakarta: Lab Sospol Press.

 

Dalam sila II terkandung nilai-nilai humanistis, antara lain:

  • Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.
  • Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
  • Pengertian manusia beradab yang memiliki daya cipta, rasa, karsa dan iman, sehingga nyatalah bedanya dengan makhluk lain.

 

Sumber: http://www.mail-archive.com/proletar@yahoogroups.com/msg28476.html

45 Butir Pancasila ( berdasarkan P4 ) Sila ke Dua

KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

 

  1. 1.    Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa.
  2. 2.    mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa menbeda-bedakan suku,keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. 3.    Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. 4.    Mengembangkan sikap tenggang Rasa dan tepa selira.
  5. 5.    Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. 6.    Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. 7.    gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. 8.    berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. 9.    bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

+++++++++++++++

Penjelasan dari sila ke 2 menjadi 10 butir di atas sungguh membuat  sedih, karena di dalam praktek kehidupan berbangsa dan bertanah air banyak di coreng oleh masyarakatnya sendiri. ( terutama dikota besar )

 

Bisa dibilang ke 10 butir tersebut hanya butir ke 7 yang masih eksis itu pun dikarenakan adanya kepentingan sesaat ( mau pemilu, ada bencana, perayaan ketatanegaraan maupun agama ), sedang butir lainnya ? ( dikampung masih ada gotong royong seh, biarpun rada-rada bergeser ke  kampung daleman lagi )

 

Dan yang patut diingat, ke sepuluh butir ini masih bisa dirasakan  prakteknya justru di kota-kota/dusun yang jauh dengan pusat kota/kekuasaan,  dimana masyarakat ‘pinggiran’ yang ‘memiliki’ pemikiran sederhana dan apa adanya tanpa mempelajari apa itu Pancasila bisa jadi malah tidak tahu dan tidak hafal isi Pancasila, apalagi P4.

 

Sedang di dalam susunan dari Pancasila, sebagai urutan ke dua bukan semata asal ditaruh pada posisi ke dua, karena sekali sila ke Dua ini tidak  berjalan dengan baik dan benar maka bisa dibilang sila lain nya pun menjadi tidak bermanfaat baik sebagai dasar negara maupun sebagai ideologi apa lagi untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Sejarah sudah mencatat bahwa NKRI/Nusantara berdiri karena kesepakatan, bersama dari banyak daerah, dan pusat ketatanegaraan maupun pusat kekuasaan menjadi fondasi pertama untuk kelangsungan NKRI, dan sekali pusat ketatanegaraan/pusat kekuasaan melupakan hakekat Pancasila, tidak lah heran hilang propinsi dan pulau, apapun alasannya, karena pengamalan dari sila ke 2 tidak benar-benar “MAU” dijalan kan, karena demi kepentingan sesaat.

 

Kembali masyarakat kecil nun jauh dari perkotaan dan pusat kekuasaan hanya bisa heran dan malah ‘kagum’ NKRI bisa berubah menjadi besar dalam hal banyak propinsi dan menjadi kecil dalam hal luas dan wilayahnya. ( bisa jadi malah tidak tahu bahwa NKRI itu sebenarnya memiliki luas, bhineka dan kuasa )

 

 

Sumber: http://kuliahade.wordpress.com/2010/07/30/pancasila-penjelasan-sila-sila/

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab

Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia. Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara , kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh anusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk social.

Oleh karena itu dalam kaitannya dengan hakikat Negara harus sesuai dengan hakikat sifat kodrat manusia yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk social. Maka bentuk dan sifat Negara Indonesia bukanlah Negara individualis yang hanya menekankan sifat makhluk individu, namaun juga bukan Negara klass yang hanya menekankan sifat mahluk social , yang berarti manusia hanya berarti bila ia dalam masyarakat secara keseluruhan . maka sifat dan hakikat Negara Indonesia adalah monodualis yaitu baik sifat kodrat individu maupun makhluk social secara serasi, harmonis dan seimbang. Selain itu hakikat dan sifat Negara Indonesia bukan hanya menekan kan segi kerja jasmani belaka, atau juga bukan hanya menekankan segi rohani nya saja, namun sifat Negara harus sesuai dengan kedua sifat tersebut yaitu baik kerja jasmani maupun kejiwaan secara serasi dan seimbang, karena dalam praktek pelaksanaannya hakikat dan sifat Negara harus sesuai dengan hakikat kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk berdiri seniri dan makhluk tuhan.

 

Pencipta / Pengarang Lirik dan Lagu : Sudharnoto

Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju

By: andhika satria nugraha, s.pd

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s